Bayangkan calon pembeli sepatu Jordan di Toronto tidak lagi mengetik “beli Jordan 1 Toronto” di kolom Google, melainkan bertanya langsung ke ChatGPT atau Google AI Overviews: “sepatu basket terbaik untuk lari di trek, tersedia di Kanada.” Jika merek yang muncul dan direkomendasikan pada percakapan itu bukan JD Sports, maka toko fisik maupun online JD Sports sama sekali tidak kebagian kue penjualan — meski produknya sebenarnya tersedia dan cocok. Skenario semacam inilah yang mendorong JD Sports Kanada mengambil langkah konkret awal September 2026: menggandeng agensi digital Verde Digital untuk memperkuat visibilitas mereka, bukan hanya di mesin pencari konvensional, tapi juga di mesin jawaban dan chatbot berbasis AI.
Ketika Pencarian Bergeser dari Kata Kunci ke Percakapan
Kemitraan yang diumumkan pada 3 September 2026 ini menyasar dua disiplin yang relatif baru dalam dunia pemasaran digital: generative engine optimization (GEO) dan answer engine optimization (AEO). Berbeda dari SEO tradisional yang berfokus pada peringkat di halaman hasil pencarian, GEO dan AEO berurusan dengan bagaimana sebuah merek “dipahami”, dikutip, dan direkomendasikan oleh model AI pihak ketiga seperti ChatGPT, Google Gemini, atau fitur AI Overviews — platform yang kini semakin sering menjadi titik awal perjalanan belanja konsumen, menggantikan kebiasaan lama mengetik kata kunci di kolom pencarian.
Joe Hale, pendiri Verde Digital, menggambarkan tantangan yang dihadapi JD Sports di pasar Kanada cukup terang-terangan. Menurutnya, persaingan memperebutkan demand pencarian di kategori sepatu di Kanada sangat ketat, dan misi kemitraan ini adalah menempatkan JD Sports sejajar dengan merek-merek yang sudah lebih dulu mapan di sana. Dari sisi JD Sports, Ryan Clarke yang menjabat Senior Growth and Measurement Manager menyebut timnya antusias menggandeng Verde untuk mempercepat posisi pencarian berbasis AI lewat kombinasi GEO dan AEO di pasar Kanada.
Dari Satu Toko di Toronto ke Lebih dari 30 Lokasi
Konteks ekspansi JD Sports di Kanada juga penting untuk memahami urgensi langkah ini. Peritel asal Inggris ini pertama kali masuk pasar Kanada pada 2021 dengan satu toko di Toronto, dan kini sudah mengoperasikan lebih dari 30 lokasi di seluruh negeri. Pertumbuhan jaringan toko fisik secepat itu perlu dibarengi dengan visibilitas digital yang sepadan — terutama karena pasar sepatu online di Kanada sudah lebih dulu diisi peritel-peritel mapan yang punya basis pelanggan dan otoritas pencarian yang kuat.
Fokus Awal di Sepatu, Lalu Merambah Apparel
Secara teknis, kemitraan dengan Verde Digital akan dimulai dengan fokus pada kategori footwear, khususnya lini-lini besar seperti Nike, Jordan, dan Adidas yang memang menjadi andalan JD Sports, sebelum nantinya diperluas ke kategori apparel. Pendekatan bertahap ini masuk akal: sepatu adalah kategori dengan volume pencarian tertinggi dan persaingan merek paling sengit, sehingga menjadi medan uji paling relevan untuk strategi GEO dan AEO sebelum diterapkan lebih luas.
Tujuan intinya adalah menangkap permintaan konsumen lebih awal dalam siklus pencarian, dengan memperkuat visibilitas di level kategori sekaligus membangun kehadiran merek di dua dunia sekaligus: mesin pencari tradisional dan platform pencarian AI yang baru tumbuh. Dengan kata lain, JD Sports tidak meninggalkan SEO lama, melainkan menambahkan lapisan strategi baru di atasnya.
Bagian dari Pola yang Lebih Besar di Grup JD
Langkah di Kanada ini sebenarnya sejalan dengan investasi yang lebih besar yang tengah dijalankan grup JD Sports secara global dalam merapikan bagaimana produk mereka “ditemukan” oleh sistem AI. Di Amerika Utara, JD Sports sebelumnya juga diketahui mengadopsi teknologi AI dari Algolia sebagai lapisan kecerdasan terkelola untuk mengoptimalkan respons katalog produk mereka terhadap kueri agen belanja berbasis AI — sebuah inisiatif terpisah namun berada dalam semangat yang sama, yakni menyiapkan infrastruktur data produk agar “dimengerti” oleh asisten AI pihak ketiga.
Sejak transisi menuju arsitektur e-commerce berbasis microservices dan API itu, grup JD Sports melaporkan sejumlah perbaikan performa yang cukup signifikan: pendapatan dari pencarian naik sekitar 22 persen, rasio klik-tayang pencarian terangkat 7,65 persen, sementara klik-tayang di halaman listing produk melonjak hingga 73 persen dengan pendapatan dari halaman tersebut tumbuh 16 persen. Kristin Matter, yang menjabat VP of Digital Operations di JD Sports, menyebut penggantian proses pencarian dan merchandising yang sebelumnya sangat manual dengan fondasi berbasis AI telah mengubah cara operasional mereka secara mendasar.
Skala yang Membuat Investasi Ini Masuk Akal
Skala operasi JD Sports memang mendukung besarnya investasi semacam ini. Di Amerika Utara saja, grup ini mengoperasikan lebih dari 2.500 toko di bawah lima nama merek berbeda, sementara JD Group secara keseluruhan menjalankan ribuan toko di puluhan negara. Pada skala seperti itu, selisih beberapa persen saja dalam visibilitas pencarian AI bisa berarti dampak pendapatan yang tidak kecil — alasan kuat mengapa tim growth JD Sports di Kanada ingin memastikan kategori footwear mereka tidak tertinggal dalam pergeseran discovery ini.
Kenapa Ini Layak Diperhatikan Peritel Lain
Kasus JD Sports Kanada ini relevan bukan hanya karena skalanya, melainkan karena ia menyoroti kategori investasi yang masih jarang dibahas dibanding topik AI ritel yang lebih populer seperti optimasi inventori atau kiosk pintar di toko fisik. Seperti yang kerap disoroti Airetail.id, portal yang berfokus mengikuti perkembangan inovasi AI di industri retail, pergeseran discovery dari mesin pencari berbasis kata kunci ke percakapan dengan asisten AI menuntut peritel mengubah cara mereka menyusun konten dan data produk — bukan lagi semata untuk dibaca manusia dan dirayapi crawler pencarian klasik, tapi juga agar “dipahami” dan direkomendasikan oleh model bahasa pihak ketiga yang semakin sering menjadi perantara pertama antara konsumen dan produk.
Bagi peritel skala menengah yang belum memikirkan GEO maupun AEO sama sekali, langkah JD Sports bisa menjadi sinyal awal bahwa jendela untuk membangun otoritas di ruang pencarian AI masih terbuka, tapi kemungkinan tidak akan terbuka lama. Begitu makin banyak merek besar yang menata ulang strategi kontennya khusus untuk dibaca mesin AI, biaya untuk “mengejar ketertinggalan” nantinya hampir pasti akan lebih mahal dibanding berinvestasi dari sekarang — persis seperti yang tengah dilakukan JD Sports di pasar Kanada.